Cari Blog Ini

Jumat, 01 April 2011

Smart Oriflame Club

Aku dulu pernah mikir kalao bisnis MLM itu cuma tipu2. pernah ditawarin banyak banget. isinya cuma ngajakin oraaaang mulu, terus ujung2nya yang terakhir gag dapet apa2 deh. tapi waktu aku liat status temenku di FB, aku penasaran banget. dia itu bisnis apa siiih, ampe tiap hari tu cuma ngomongin bosun terus. trus aku tanya "sil, kamu bisnis apaan siih?? koq kayaknya dapet duit mulu???", naaah, temenku mulai cerita deh soal ORIFLAMe yang penuh denagn kejutan,,,hehehe...Cuma dengan modal 39900 aku bisa dapet untuk yang lebih berlipat-lipat. mulai dari penjualan langsung, bonus penjualan perbulan, bonus WP dari produk 100rb, 400rb, 700rb,, dan masssiiih bwanyyaaaaak lagi bonus laiinnya. lumayan buat uang saku,,,hihihi...
aku baru gabung 2 bulan kan, dapet level 3%, bonusnya masih 50000 an,,tp yah cikiciew,lumayan buat beli2 buku n jajan,,,hahaha :D
temen ku aja yang 3 gbulan mpe 4 bulan uda nyampe 2jt per bulannn...uuuuuh, pengen cepet2 niiih...Bali juga menunggu,,kalau dapet level tertentu ntar juga bisa jalan2 keliling indonesia,,,uupps,,keliling dunia gratiiis...wah wah wah,,, enak banget yah,,,gag cuma itu lho, kita juga dikasiiih uang saku, kan gag lucu kalo nyampe sana cuma liat2 aja,,hehehe...
nah lhoo,,,mesti kebayang2 kan asiiknya,,, :DD
tunggu apa lagi, cuma dengan modal 39900 kamu bisa dapet bonus berlipet2 n bisa jalan2 juga,,,yuhuuuuy :DD
apalagi di April iniii,,,ada promo menarik banget..kunjungi aja www.dare-to-be.net


oia,,kalo mau liat2 produk, order ato mau daftar member jangan lupa KLIK http://www.facebook.com/profile.php?id=100002079289492
gag tipu2 ,,,hohoho :p

Senin, 24 Januari 2011

BK Pribadi-Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Memahami Makna Bimbingan dan Konseling
Prayitno & Amti (2004) menyebut bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal,dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier.
SK Mendikbud No. 025/1995yang menyangkut bimbingan dan konseling menegasan istilah yang digunakan yaitu guru pembimbing, kegiatannya bertolak dari BK Pola-17, pelaksanaan kegiatan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian, analisis penilaian dan tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di dalam dan di luar jam kerja. Upaya peningkatan profesionalisme guru pembimbing ditempuh melalui Musyawarah Guru Pembimbing.

1.2. Rasionel dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal menjelaskan bahwa:
1) Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah adalah upaya memfasilitasi siswa agar mampu mengembangkan potensi dirinya.
2) Konseli sebagai individu yang sedang berkembang ke arah kematangan, untuk mencapai kematangan tersebut konseli memerlukan bimbingan karena masih kurang memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungan, juga pengalaman dalam menentukan arah hidupnya.

1.3. Arah Pelayanan Bimbingan Konseling Pribadi dan Sosial
Pelayanan Bimbingan dan Konseling diarahkan untuk memfasilitasi pengembangan siswa, secara individual, kelompok/klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi dan peluang yang dimiliki.

1. Tugas Perkembangan Siswa, mancakup kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, hubungan sosial, pertumbuhan jasmani yang sehat, penguasaan IPTEK, pilihan berkarier, dan kemampuan berkomunikasi.
2. Bidang Bimbingan
a. Bimbingan Pribadi, mencakup pengembangan wawasan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, pemahaman potensi diri dan pengembangannya, pemahaman bakat, minat, kelemahan diri, kemampuan mengambil keputusan dn mengarahkan diri, perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat.
b. Bimbingan Sosial, mencakup kemampuan berkomunikasi, menerima dan mengemukakan pendapat, berperilaku dan berhubungan sosial, hubungan dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya, pemahaman tentang peraturan, serta orientasi tentang hidup.
c. Bimbingan Belajar, mencakup sikap, kebiasaan, keterampilan, dan disiplin belajar. Penguasan materi program belajar IPTEK, pemahaman pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya, serta orientasi untuk pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi.
d. Bimbingan Karier, mencakup pemahaman tentang karier, orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha, pendidikan tambahan dan yang lebih tinggi, pengenalan lapangan kerja untuk tamatan SMA, pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus siswa SMK.
3. Kompetensi
a. Kompetensi Umum
b. Kompetensi Khusus
4. Materi Bimbingan dan Konseling, meliputi sinkronisasi dari tugas perkembangan siswa.
5. Layanan Bimbingan dan Konseling, meliputi:
a. Orientasi/memahami lingkungan
b. Menerima dan memahami berbagai informasi
c. Penempatan dan penyaluran yang tepat
d. Pembelajaran/pengembangan sikap dan kebiasaan belajar
e. Konseling perorangan/layanan langsung tatap muka
Sukardi (2008) menyatakan bahwa 4 bidang layanan bimbingan dan konseling memiliki peran yang menentukan dalam meningkatkan sumber daya manusia seperti tertera dalam Tujuan Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun 2003). Tujuan tersebut menghendaki agar semua tingkat satuan pendidikan memantapkan proses pendidikannya.
Bimbingan pribadi-sosial dilaksanakan untuk membantu siswa yang mengalami masalah yang berhubungan dengan keadaan pribadi dan sosial. Masalah muncul bukan karena siswa kesulitan dalam melakukan hubungan sosial degan lingkungan tetapi karena siswa tidak mampu mengenal dan memahami diri sendiri.
1.4. Standar Kompetensi Kemandirian Siswa
Standar Kompetensi Kemandirian melingkupi upaya pengembangan dan mewujudkan potensi diri siswa secara penuh dalam aspek pribadi, sosial, belajar dan karier. Serta upaya memfasilitasi perkembangan siswa.

1.5. Komplementasi Bimbingan dan Konseling dengan Pengembangan diri
Pengembangan diri adalah bagian dari KTSP yang dalam pelaksanaan pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran tetapi dapat dipadukan dengan mata pelajaran tertentu. Pengembangan diri hanya sebagian saja dari kegiatan konselor sekolah serta bukan menjadi tugas pokok konselor tetapi dimaknai sebagai tugas tambahan.















BAB II
TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING

2.1. Tujuan Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Pribadi-Sosial Konseli
Dalam dokumen Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (DitJen PMPTK-Depdiknas, 2007) dirumuskan tujuan bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta kehidupannya di masa yang akan datang.
2) Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3) Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.
4) Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat dan lingkungan kerja.

2.2. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek-Aspek Konseli
2.2.1. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Pribadi-Sosial Konseli
Tujuan Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli dirumuskan sebagai berikut:
1) Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME
2) Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain
3) Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif
4) Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara obektif
5) Memiliki sikap positif
6) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
7) Bersikap respek terhadap orang lain
8) Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk komitmen
9) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial
10) Memiliki kemampuan menyelesaikan konflik
11) Memiliki kemampuan mengambil keputusan secara efektif


2.2.2. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Akademik/Belajar Konseli
Tujuan Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek akademik/belajar konseli dirumuskan sebagai berikut:
1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri
2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar positif
3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
4) Memiliki keterampilan belajar efektif
5) Memiliki keterampilan menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
6) Memiliki kesiapan mental dan mampu menghadapi ujian
2.2.3. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Karier Konseli
Tujuan Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek karier konseli dirumuskan sebagai berikut:
1) Memiliki Pemahaman diri yang terkait dengan pekerjaan
2) Memiliki pengetahuan dan informasi mengenai dunia kerja
3) Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja
4) Memahami relevansi kompetensi belajar dengan syarat keahlian
5) Memiliki kemampuan membentuk identitas karier
6) Memiliki kemampuan merencanakan masa depan

2.3. Implementasi Tujuan Bimbingan dan Konseling melalui Penelitian pada Populasi Siswa
Bimbingan sosial-pribadi bagi Anak Berbakat Akademik (ABA), dengan subjek SMAN 3 Bandung, SMAN 1, 3 dan 8 Yogyakarta. Studi ini berimplikasi siswa dipandang memiliki kebutuhan unik daripada individu bermasalah. Model bimbingan perkembangan sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kecakapan sosial-pribadi ABA.
Selanjutnya program bimbingan pribadi-sosial untuk mengembangkan perilaku seksual sehat di SMA N 2 Tangerang. Program bimbingan ini bertujuan untuk membantu siswa mengatasi masalah perkembangan seksualitasnya, membimbing siswa belajar memahami dan mengelola dorongan seksual secara sehat.
Bimbingan pribadi-sosial khusus untuk siswa kelas unggulan di SMA N 1 Soreang. Tidak ada perbedaan nyata antara masalah emosi-sosial siswa kelas unggulan berprestasi tinggi, sedang dan rendah. Permasalahan labeling merupakan kunci masalah aspek sosial sekaligus emosi siswa kelas unggulan.
BAB III
KOMPONEN PROGRAM
BIMBINGAN DAN KONELING

Program bimbingan dan konseling mengandung empat komponen pelayanan, yaitu:
1. Pelayanan Dasar Bimbingan
2. Pelayanan Responsif
3. Perencanaan Individual
4. Dukungan Sistem

3.1. Pelayanan Dasar Bimbingan
3.1.1. Pengertian Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar yaitu proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan konseli memilih dan mengambil keputusan.

3.1.2. Tujuan Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar bertujuan membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, mental yang sehat dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, agar konseli dapat mencapai tugas perkembangannya.

3.1.3. Fokus Perkembangan
Fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier.

3.1.4. Strategi Implementasi Program Pelayanan Dasar
Strategi Implementasi Program Pelayanan Dasar diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Bimbingan Kelas
Kegiatan bimbingan kelas ini berupa diskusi kelas atau brainstorming.



b. Pelayanan Orientasi
Kegiatan yang memungkinkan siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama lingkungan sekolah. Biasanya dilaksanakan pada awal program pelajaran baru.
c. Pelayanan Informasi
Pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermafaat bagi siswa melalui komunikasi.
d. Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok kecil, topik yang didiskusikan adalah masalah umum.
e. Pelayanan Pengumpulan Data
Mengumpulkan data pribadi siswa dan lingkungan siswa.

3.2. Pelayanan Responsif
3.2.1. Pengertian Pelayanan Responsif
Pelayanan responsif merupakan bantuan kepada konseli yang berkebutuhan dan bermasalah yang perlu pertolongan segera.

3.2.2. Tujuan Pelayanan Responsif
Tujuan dari pelayanan responsif yaitu membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas perkembangannya.

3.2.3. Fokus Perkembangan Pelayanan Responsif
Fokus pelayanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan konseli. Masalah (gejala perilaku bermasalah) yang kemungkinan dialami konseli yaitu:
a. Merasa cemas tentang masa depan
b. Merasa rendah diri
c. Berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan)
d. Membolos
e. Malas belajar
f. Kurang dapat bergaul
g. Prestasi belajar rendah
h. Malas beribadah
i. Masalah pergaulan bebas, tawuran
j. Pengelolaan stres
k. Masalah dalam keluarga
3.2.4. Strategi Implementasi Program Pelayanan Responsif
Strategi implementasi program pelayanan responsif diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Konseling Individual dan Kelompok
2) Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
3) Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas
4) Kolaborasi dengan Orangtua Siswa
5) Kolaborasi dengan pihak terkait di luar Sekolah atau Madrasah
6) Konsultasi
7) Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
8) Konferensi Kasus
9) Kunjungan Rumah

3.3. Perencanaan Individual
3.3.1. Pengertian Perencanaan Individual
Perencanaan individual merupakan bantuan kepada konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman dirinya.

3.3.2. Tujuan Perencanaan Individual
Tujuan perencanaan individual dirumuskan sebagai upaya memfasilitsi konseli untuk merencanakan, memantau, mengelola rencana pendidikan, karier dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Pelayanan yag diberikan bersifat individual.

3.3.3. Fokus Pengembangan Perencanaan Individual
Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan perkembangan aspek akademik, karier dan pribadi-sosial.

3.3.4. Strategi Implementasi Program Pelayanan Responsif
Di dalam Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (DitJen PMPTK-Depdiknas, 2007) Strategi Implementasi Program Perencanaan Individual dikemukakan sebagai berikut: konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya.

3.4. Dukungan Sistem
Ketiga komponen seperti pelayanan dasar bimbingan, pelayanan responsive dan perencanaan individual merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur misalnya: Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta pengembangan kemampuan professional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberi bantuan atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli. Dukungan sistem ini meliputi aspek: pengembangan jejaring/networking, kegiatan manajemen, riset dan pengembangan.

3.4.1. Pengembangan Jejaring/Networking
Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yaitu:
1) Konsultasi dengan guru-guru.
2) Menyelenggarakan program kerjasama dengan orangtua atau masyarakat.
3) Berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Sekolah/Madrasah.
4) Bekerjasama dengan personel sekolah lainya dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan konseli.
5) Melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.
6) Melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling.

3.4.2. Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan upaya untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melaui kegiatan: pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumberdaya dan pengembangan penataan kebijakan yang dirinci berikut; pengembangan profesioanlisme, pemberian konsultasi dan berkolaborasi dan manajemen program.


3.5. Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling
Penyusunan program bimbingan dan konseling di Sekolah dimulai dari kegiatan asesmen, meliputi:
1) Asesmen lingkungan.
2) Asesmen kebutuhan atau masalah peserta didik.

Berikut adalah struktur pengembangan program berbasis tugas-tugas perkembangan sebagai kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Dalam merumuskan program, struktur dan isi/materi program ini bersifat fleksibel yang disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan peserta didik berdasarkan hasil penilaian kebutuhan di masing-masing Sekolah/Madrasah.
1) Rasional
2) Visi dan Misi
3) Deskripsi Kebutuhan
4) Tujuan
5) Komponen Program
6) Rencana Operasional (Action Plan).

Minggu, 23 Januari 2011

BK Pribadi Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Memahami Makna Bimbingan dan Konseling
Prayitno & Amti (2004) menyebut bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal,dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier.
SK Mendikbud No. 025/1995yang menyangkut bimbingan dan konseling menegasan istilah yang digunakan yaitu guru pembimbing, kegiatannya bertolak dari BK Pola-17, pelaksanaan kegiatan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian, analisis penilaian dan tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di dalam dan di luar jam kerja. Upaya peningkatan profesionalisme guru pembimbing ditempuh melalui Musyawarah Guru Pembimbing.

1.2. Rasionel dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal menjelaskan bahwa:
1) Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah adalah upaya memfasilitasi siswa agar mampu mengembangkan potensi dirinya.
2) Konseli sebagai individu yang sedang berkembang ke arah kematangan, untuk mencapai kematangan tersebut konseli memerlukan bimbingan karena masih kurang memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungan, juga pengalaman dalam menentukan arah hidupnya.

1.3. Arah Pelayanan Bimbingan Konseling Pribadi dan Sosial
Pelayanan Bimbingan dan Konseling diarahkan untuk memfasilitasi pengembangan siswa, secara individual, kelompok/klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi dan peluang yang dimiliki.





Arah Pelayanan Bimbingan dan Konseling:
Pengembangan Berbagai Kompetensi Siswa





























Gambar 1. Arah Pelayanan Bimbingan dan Konseling


Penjelasan:
1. Tugas Perkembangan Siswa, mancakup kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, hubungan sosial, pertumbuhan jasmani yang sehat, penguasaan IPTEK, pilihan berkarier, dan kemampuan berkomunikasi.
2. Bidang Bimbingan
a. Bimbingan Pribadi, mencakup pengembangan wawasan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, pemahaman potensi diri dan pengembangannya, pemahaman bakat, minat, kelemahan diri, kemampuan mengambil keputusan dn mengarahkan diri, perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat.
b. Bimbingan Sosial, mencakup kemampuan berkomunikasi, menerima dan mengemukakan pendapat, berperilaku dan berhubungan sosial, hubungan dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya, pemahaman tentang peraturan, serta orientasi tentang hidup.
c. Bimbingan Belajar, mencakup sikap, kebiasaan, keterampilan, dan disiplin belajar. Penguasan materi program belajar IPTEK, pemahaman pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya, serta orientasi untuk pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi.
d. Bimbingan Karier, mencakup pemahaman tentang karier, orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha, pendidikan tambahan dan yang lebih tinggi, pengenalan lapangan kerja untuk tamatan SMA, pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus siswa SMK.
3. Kompetensi
a. Kompetensi Umum
b. Kompetensi Khusus
4. Materi Bimbingan dan Konseling, meliputi sinkronisasi dari tugas perkembangan siswa.
5. Layanan Bimbingan dan Konseling, meliputi:
a. Orientasi/memahami lingkungan
b. Menerima dan memahami berbagai informasi
c. Penempatan dan penyaluran yang tepat
d. Pembelajaran/pengembangan sikap dan kebiasaan belajar
e. Konseling perorangan/layanan langsung tatap muka
Sukardi (2008) menyatakan bahwa 4 bidang layanan bimbingan dan konseling memiliki peran yang menentukan dalam meningkatkan sumber daya manusia seperti tertera dalam Tujuan Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun 2003). Tujuan tersebut menghendaki agar semua tingkat satuan pendidikan memantapkan proses pendidikannya.
Bimbingan pribadi-sosial dilaksanakan untuk membantu siswa yang mengalami masalah yang berhubungan dengan keadaan pribadi dan sosial. Masalah muncul bukan karena siswa kesulitan dalam melakukan hubungan sosial degan lingkungan tetapi karena siswa tidak mampu mengenal dan memahami diri sendiri.
1.4. Standar Kompetensi Kemandirian Siswa
Standar Kompetensi Kemandirian melingkupi upaya pengembangan dan mewujudkan potensi diri siswa secara penuh dalam aspek pribadi, sosial, belajar dan karier. Serta upaya memfasilitasi perkembangan siswa.

1.5. Komplementasi Bimbingan dan Konseling dengan Pengembangan diri
Pengembangan diri adalah bagian dari KTSP yang dalam pelaksanaan pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran tetapi dapat dipadukan dengan mata pelajaran tertentu. Pengembangan diri hanya sebagian saja dari kegiatan konselor sekolah serta bukan menjadi tugas pokok konselor tetapi dimaknai sebagai tugas tambahan.















BAB II
TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING

2.1. Tujuan Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Pribadi-Sosial Konseli
Dalam dokumen Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (DitJen PMPTK-Depdiknas, 2007) dirumuskan tujuan bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta kehidupannya di masa yang akan datang.
2) Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3) Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.
4) Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat dan lingkungan kerja.

2.2. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek-Aspek Konseli
2.2.1. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Pribadi-Sosial Konseli
Tujuan Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli dirumuskan sebagai berikut:
1) Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME
2) Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain
3) Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif
4) Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara obektif
5) Memiliki sikap positif
6) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
7) Bersikap respek terhadap orang lain
8) Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk komitmen
9) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial
10) Memiliki kemampuan menyelesaikan konflik
11) Memiliki kemampuan mengambil keputusan secara efektif


2.2.2. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Akademik/Belajar Konseli
Tujuan Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek akademik/belajar konseli dirumuskan sebagai berikut:
1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri
2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar positif
3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
4) Memiliki keterampilan belajar efektif
5) Memiliki keterampilan menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
6) Memiliki kesiapan mental dan mampu menghadapi ujian
2.2.3. Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Aspek Karier Konseli
Tujuan Bimbingan dan Konseling yang terkait dengan aspek karier konseli dirumuskan sebagai berikut:
1) Memiliki Pemahaman diri yang terkait dengan pekerjaan
2) Memiliki pengetahuan dan informasi mengenai dunia kerja
3) Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja
4) Memahami relevansi kompetensi belajar dengan syarat keahlian
5) Memiliki kemampuan membentuk identitas karier
6) Memiliki kemampuan merencanakan masa depan

2.3. Implementasi Tujuan Bimbingan dan Konseling melalui Penelitian pada Populasi Siswa
Bimbingan sosial-pribadi bagi Anak Berbakat Akademik (ABA), dengan subjek SMAN 3 Bandung, SMAN 1, 3 dan 8 Yogyakarta. Studi ini berimplikasi siswa dipandang memiliki kebutuhan unik daripada individu bermasalah. Model bimbingan perkembangan sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kecakapan sosial-pribadi ABA.
Selanjutnya program bimbingan pribadi-sosial untuk mengembangkan perilaku seksual sehat di SMA N 2 Tangerang. Program bimbingan ini bertujuan untuk membantu siswa mengatasi masalah perkembangan seksualitasnya, membimbing siswa belajar memahami dan mengelola dorongan seksual secara sehat.
Bimbingan pribadi-sosial khusus untuk siswa kelas unggulan di SMA N 1 Soreang. Tidak ada perbedaan nyata antara masalah emosi-sosial siswa kelas unggulan berprestasi tinggi, sedang dan rendah. Permasalahan labeling merupakan kunci masalah aspek sosial sekaligus emosi siswa kelas unggulan.
BAB III
KOMPONEN PROGRAM
BIMBINGAN DAN KONELING

Program bimbingan dan konseling mengandung empat komponen pelayanan, yaitu:
1. Pelayanan Dasar Bimbingan
2. Pelayanan Responsif
3. Perencanaan Individual
4. Dukungan Sistem

3.1. Pelayanan Dasar Bimbingan
3.1.1. Pengertian Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar yaitu proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan konseli memilih dan mengambil keputusan.

3.1.2. Tujuan Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar bertujuan membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, mental yang sehat dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, agar konseli dapat mencapai tugas perkembangannya.

3.1.3. Fokus Perkembangan
Fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier.

3.1.4. Strategi Implementasi Program Pelayanan Dasar
Strategi Implementasi Program Pelayanan Dasar diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Bimbingan Kelas
Kegiatan bimbingan kelas ini berupa diskusi kelas atau brainstorming.



b. Pelayanan Orientasi
Kegiatan yang memungkinkan siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama lingkungan sekolah. Biasanya dilaksanakan pada awal program pelajaran baru.
c. Pelayanan Informasi
Pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermafaat bagi siswa melalui komunikasi.
d. Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok kecil, topik yang didiskusikan adalah masalah umum.
e. Pelayanan Pengumpulan Data
Mengumpulkan data pribadi siswa dan lingkungan siswa.

3.2. Pelayanan Responsif
3.2.1. Pengertian Pelayanan Responsif
Pelayanan responsif merupakan bantuan kepada konseli yang berkebutuhan dan bermasalah yang perlu pertolongan segera.

3.2.2. Tujuan Pelayanan Responsif
Tujuan dari pelayanan responsif yaitu membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas perkembangannya.

3.2.3. Fokus Perkembangan Pelayanan Responsif
Fokus pelayanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan konseli. Masalah (gejala perilaku bermasalah) yang kemungkinan dialami konseli yaitu:
a. Merasa cemas tentang masa depan
b. Merasa rendah diri
c. Berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan)
d. Membolos
e. Malas belajar
f. Kurang dapat bergaul
g. Prestasi belajar rendah
h. Malas beribadah
i. Masalah pergaulan bebas, tawuran
j. Pengelolaan stres
k. Masalah dalam keluarga
3.2.4. Strategi Implementasi Program Pelayanan Responsif
Strategi implementasi program pelayanan responsif diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Konseling Individual dan Kelompok
2) Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
3) Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas
4) Kolaborasi dengan Orangtua Siswa
5) Kolaborasi dengan pihak terkait di luar Sekolah atau Madrasah
6) Konsultasi
7) Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
8) Konferensi Kasus
9) Kunjungan Rumah

3.3. Perencanaan Individual
3.3.1. Pengertian Perencanaan Individual
Perencanaan individual merupakan bantuan kepada konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman dirinya.

3.3.2. Tujuan Perencanaan Individual
Tujuan perencanaan individual dirumuskan sebagai upaya memfasilitsi konseli untuk merencanakan, memantau, mengelola rencana pendidikan, karier dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Pelayanan yag diberikan bersifat individual.

3.3.3. Fokus Pengembangan Perencanaan Individual
Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan perkembangan aspek akademik, karier dan pribadi-sosial.

3.3.4. Strategi Implementasi Program Pelayanan Responsif
Di dalam Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (DitJen PMPTK-Depdiknas, 2007) Strategi Implementasi Program Perencanaan Individual dikemukakan sebagai berikut: konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya.

3.4. Dukungan Sistem
Ketiga komponen seperti pelayanan dasar bimbingan, pelayanan responsive dan perencanaan individual merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur misalnya: Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta pengembangan kemampuan professional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberi bantuan atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli. Dukungan sistem ini meliputi aspek: pengembangan jejaring/networking, kegiatan manajemen, riset dan pengembangan.

3.4.1. Pengembangan Jejaring/Networking
Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yaitu:
1) Konsultasi dengan guru-guru.
2) Menyelenggarakan program kerjasama dengan orangtua atau masyarakat.
3) Berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Sekolah/Madrasah.
4) Bekerjasama dengan personel sekolah lainya dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan konseli.
5) Melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.
6) Melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling.

3.4.2. Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan upaya untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melaui kegiatan: pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumberdaya dan pengembangan penataan kebijakan yang dirinci berikut; pengembangan profesioanlisme, pemberian konsultasi dan berkolaborasi dan manajemen program.


3.5. Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling
Penyusunan program bimbingan dan konseling di Sekolah dimulai dari kegiatan asesmen, meliputi:
1) Asesmen lingkungan.
2) Asesmen kebutuhan atau masalah peserta didik.

Berikut adalah struktur pengembangan program berbasis tugas-tugas perkembangan sebagai kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Dalam merumuskan program, struktur dan isi/materi program ini bersifat fleksibel yang disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan peserta didik berdasarkan hasil penilaian kebutuhan di masing-masing Sekolah/Madrasah.
1) Rasional
2) Visi dan Misi
3) Deskripsi Kebutuhan
4) Tujuan
5) Komponen Program
6) Rencana Operasional (Action Plan).

SATLAN BELAJAR

SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING


A. Topik : Konsentrasi
B. Bidang Bimbingan : Belajar
C. Kompetensi Dasar : Pengembangan motivasi, keterampilan dan kemandirian siswa dalam meningkatkan konsentrasi belajar sehingga proses belajar lebih efektif.
D. Jenis Layanan : Pembelajaran
E. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Pengembangan
F. Tujuan : 1. Siswa mampu menjelaskan cara-cara berkonsentrasi
2. Siswa memiliki keterampilan atau kemampuan dalam meningkatkan konsentrasi belajar.
3. Siswa mampu membiasakan diri dengan konsentrasi dalam belajar.
G. Sasaran Layanan : Siswa kelas XI
H. Uraian Kegiatan :
Guru Pembimbing :
1. Guru menjelaskan materi mengenai kiat-kiat berkonsentrasi dalam belajar
2. Menjelaskan dan tanya jawab dengan siswa mengenai gangguan dalam belajar

Siswa :
1. Mendengarkan guru pada saat memberikan materi
2. Siswa menjawab pertanyaan yang di ajukan guru mengenai gangguan dalam belajar
I. Metode : Ceramah dan tanya jawab
J. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
K. Waktu : 01 Februari 2011
M. Penyelenggara Layanan : Yuliana Dewi W
N. Pihak yang diikutsertakan : -
O. Alat dan Perlengkapan : Materi dan Bolpoint
P. Rencana penilaian tindak lanjut layanan :
1. Tingkat pemahaman siswa terhadap materi layanan
2. Antusias siswa dalam menerima materi
3. Konsultasi individual

Q. Catatan khusus : -



Salatiga, 17 April 2010

Mengetahui,
Koordinator BK/ Kepala Sekolah Perencanan Layanan/ Guru Pembimbing



(Budi Rahmanto) (Yuliana Dewi W)

Rabu, 19 Januari 2011

KareNa waNita inGin di mEngertiii

1. Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih, tetapi dia tidak meneteskan airmata, itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.

2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya, lebih baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.

3. Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang paling dia sayang (karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus di tengah jalan).

4. Jika seorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.

5. Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya,dia akan cair seperti coklat!!

6. Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahucara menerima pujian.

7. Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati, tolak cintanya dengan lembut, jangan kasar karena ada satu semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah membuat keputusan, dia akan melakukan apa saja.

8. Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak cintanya, biarkan dia untuk seketika. Jika kamu masih ingin menganggap dia seorang kawan, cobalah tegur dia perlahan-lahan.

9. Wanita suka meluapkan apa yang mereka rasa. Musik, puisi, lukisan dan tulisan adalah cara termudah mereka meluapkan isi hati mereka.

10.Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.

11.Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.

12.Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif, misalnya menghubunginya melalui telepon, si gadis akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat, tetapi sebenarnya dia akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh menit, semua teman-temannya akan tahu berita tersebut.

13.Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita.Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.

14.Jika kamu menyukai seorang wanita, mulailah dengan persahabatan. Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.

15.Jika seorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar, tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.

16.Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.

17.Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya. Tanya dia sendiri!!

18.Setelah seorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.

19.Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk memikat hati seorang gadis, bacalah buku-buku cinta.

20.Bila setiap kali melihat foto bersama, yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya, kemudian barulah dirinya sendiri.

21.Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!

22.Satu ucapan 'Hai' saja sudah cukup menceriakan harinya.

23.Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.

24.Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata-mata untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.

25.Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.

26.Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang diicintainya dengan sepenuh hati.

27.Senjata wanita adalah airmata!!

28.Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise buatnya (hadiah, bunga atau sekadar kata-kata romantis). Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati. Dengan ini dia tak akan ragu-ragu terhadapmu.

29.Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya. So, kalau mau memikat wanita pandai - pandailah.

30. Sebenarnya mudah mengambil hati wanita karena apa yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.

Minggu, 16 Januari 2011

Ada Apa Antara Robert Pattinson & Stewart?

VIVAnews - Robert Pattinson dan Kristen Stewart yang sebelumnya selalu terlihat mesra, memutuskan untuk merayakan Natal terpisah. Stewart terlihat menghabiskan waktu di Los Angeles. Tetapi, ia tak sendirian.

Seorang pria yang bukan Pattinson terlihat mendampingi bintang muda tersebut. Usut punya usut, pria itu adalah Garrett Hedlund, lawan main Stewart dalam film 'On The Road'.

"Mereka duduk bersama dan menghabiskan waktu bersama sampai pukul 02.30 pagi waktu setempat. Mereka sangat dekat tetapi keduanya tak saling bersentuhan," kata sumber seperti dikutip dari Daily Telegraph, Rabu 29 Desember 2010.

Kehadiran Hedlund mendampingi Stewart tentu saja menimbulkan spekulasi soal kelangsungan hubungannya dengan Pattinson. Selama ini, keduanya memang tertutup soal hubungan di antara mereka.

Apalagi, menurut sumber, pasangan ini sedang menghadapi kebosanan. Kebersamaan mereka dalam film lanjutan 'Twilight' di mana mereka harus berperan sebagai suami istri membuat keduanya memilih untuk menghabiskan waktu sendiri-sendiri.

"Mereka tinggal di kamar terpisah," kata salah seorang yang dekat dengan pasangan itu.

Pasangan ini baru saja dinobatkan sebagai pasangan terbaik 2010 dari MTV. Keduanya mulai populer berkat perannya di film 'Twilight'. Mereka dikabarkan terlibat cinta lokasi. (pet)

Justin Bieber Diminta Tidak Sombong

VIVAnews - Kehadiran Justin Bieber di panggung musik dunia tak hanya menarik perhatian para penggemar, tetapi juga beberapa penyanyi senior seperti Debbie Gibson.

Gibson yang juga sukses menjadi penyanyi saat di usia muda mengatakan, ia sangat mengerti dan memahami apa yang dirasakan Bieber saat ini. Sindrom sebagai bintang besar pasti sedang merasuki penyanyi berusia 16 tahun. Dan ia mengingatkan Bieber agar berhati-hati dengan popularitas yang kini sedang dinikmati penyanyi tersebut.

"Ini terlalu banyak dan terlalu cepat. Dia mengingatkan walaupun di usianya Bieber nampak bijaksana dan dapat menjalani dunia showbiz tapi emosionalnya belum terbangun," kata Gibson seperti dikutip dari Starpulse, Senin 17 Januari 2011.

Tak hanya menyoroti karir menyanyi Bieber, penyanyi yang populer di tahun 80-an ini juga mengamati sepak terjang artis pelantun 'Baby' itu selama ini termasuk soal kedekatannya dengan beberapa selebriti. Dan yang paling mendapat perhatian adalah saat foto-foto ciuman Bieber dengan Selena Gomez beredar luas.

Ia tak ingin Bieber terbuai dengan popularitasnya. Ia khawatir Bieber akan merasa sakit dan tak bisa menerima kegagalan jika karirnya tak lagi berada di atas seperti saat ini.

"Jika dia tak rendah hati, ia bisa kehilangan kewarasannya," ucapnya lagi.

Pelantun 'Electric Youth' ini merasa peranan orangtua sangat diperlukan saat anak-anak diusia remaja menjadi seorang superstar."Seseorang harus mengajari anak-anaknya untuk menghargai rantai komando," kata dia. (sj)